<?xml version="1.0"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xml:lang="id">
	<id>https://infokawan.karantina.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=1nilamsari</id>
	<title>Infokawan - Kontribusi pengguna [id]</title>
	<link rel="self" type="application/atom+xml" href="https://infokawan.karantina.id/api.php?action=feedcontributions&amp;feedformat=atom&amp;user=1nilamsari"/>
	<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Istimewa:Kontribusi_pengguna/1nilamsari"/>
	<updated>2026-10-28T03:09:27Z</updated>
	<subtitle>Kontribusi pengguna</subtitle>
	<generator>MediaWiki 1.44.2</generator>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1931</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1931"/>
		<updated>2023-09-15T06:54:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Peraturan Menteri */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1dlFzO9nVTSk6vopaLoc0s1WEWKEsTzng/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1SlJhgruxqDhj3lQ17wswfUqf9azkbQ4Z/view?usp=sharing Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1930</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1930"/>
		<updated>2023-09-15T06:54:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Peraturan Pemerintah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1dlFzO9nVTSk6vopaLoc0s1WEWKEsTzng/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1929</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1929"/>
		<updated>2023-09-15T06:53:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Peraturan Pemerintah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1SlJhgruxqDhj3lQ17wswfUqf9azkbQ4Z/view?usp=sharing Peraturan Menteri Keuangan Nomor 85 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1dlFzO9nVTSk6vopaLoc0s1WEWKEsTzng/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1928</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1928"/>
		<updated>2023-09-12T05:09:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1dlFzO9nVTSk6vopaLoc0s1WEWKEsTzng/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1927</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1927"/>
		<updated>2023-09-12T03:51:54Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Peraturan Pemerintah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1dlFzO9nVTSk6vopaLoc0s1WEWKEsTzng/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1vFhmxA6R_otRvOGjgE3398nSR0sziOdq/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1926</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1926"/>
		<updated>2023-09-12T03:42:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1vFhmxA6R_otRvOGjgE3398nSR0sziOdq/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1925</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1925"/>
		<updated>2023-09-12T03:37:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Peraturan Pemerintah */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1vFhmxA6R_otRvOGjgE3398nSR0sziOdq/view?usp=sharing Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1924</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1924"/>
		<updated>2023-09-12T03:31:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* Undang - Undang */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[https://drive.google.com/file/d/1DZZjYnsf18XuL0EzCUxIJZpAbHI8v7mC/view?usp=sharing Undang-undang Nomor 21 Tahun 2019]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomor 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1923</id>
		<title>Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1923"/>
		<updated>2023-09-12T02:02:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Pnbp.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0002.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0003.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0004.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0005.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0006.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0007.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|g]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0008.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0009.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|i]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0010.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|j]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0011.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|k]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0012.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|l]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0013.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|m]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0014.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|n]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0015.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|o]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0016.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|p]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0017.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|q]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0018.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|r]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0019.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|s]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0020.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|t]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0021.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0022.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0023.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0024.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0025.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0026.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0027.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0028.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|28]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0029.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|29]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0030.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|30]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0031.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|31]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0032.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0033.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|33]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0034.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0034.jpg&amp;diff=1922</id>
		<title>Berkas:ISI page-0034.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0034.jpg&amp;diff=1922"/>
		<updated>2023-09-12T02:02:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;34&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0033.jpg&amp;diff=1921</id>
		<title>Berkas:ISI page-0033.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0033.jpg&amp;diff=1921"/>
		<updated>2023-09-12T02:02:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;33&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0032.jpg&amp;diff=1920</id>
		<title>Berkas:ISI page-0032.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0032.jpg&amp;diff=1920"/>
		<updated>2023-09-12T02:01:28Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;32&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0031.jpg&amp;diff=1919</id>
		<title>Berkas:ISI page-0031.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0031.jpg&amp;diff=1919"/>
		<updated>2023-09-12T02:00:33Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;31&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0030.jpg&amp;diff=1918</id>
		<title>Berkas:ISI page-0030.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0030.jpg&amp;diff=1918"/>
		<updated>2023-09-12T02:00:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;30&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0029.jpg&amp;diff=1917</id>
		<title>Berkas:ISI page-0029.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0029.jpg&amp;diff=1917"/>
		<updated>2023-09-12T01:59:39Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;29&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0028.jpg&amp;diff=1916</id>
		<title>Berkas:ISI page-0028.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0028.jpg&amp;diff=1916"/>
		<updated>2023-09-12T01:59:10Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;28&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0027.jpg&amp;diff=1915</id>
		<title>Berkas:ISI page-0027.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0027.jpg&amp;diff=1915"/>
		<updated>2023-09-12T01:58:13Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0026.jpg&amp;diff=1914</id>
		<title>Berkas:ISI page-0026.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0026.jpg&amp;diff=1914"/>
		<updated>2023-09-12T01:57:45Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0025.jpg&amp;diff=1913</id>
		<title>Berkas:ISI page-0025.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0025.jpg&amp;diff=1913"/>
		<updated>2023-09-12T01:57:20Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0024.jpg&amp;diff=1912</id>
		<title>Berkas:ISI page-0024.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0024.jpg&amp;diff=1912"/>
		<updated>2023-09-12T01:56:56Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0023.jpg&amp;diff=1911</id>
		<title>Berkas:ISI page-0023.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0023.jpg&amp;diff=1911"/>
		<updated>2023-09-12T01:56:31Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1910</id>
		<title>Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1910"/>
		<updated>2023-09-12T01:56:00Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Pnbp.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0002.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0003.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0004.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0005.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0006.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0007.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|g]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0008.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0009.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|i]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0010.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|j]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0011.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|k]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0012.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|l]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0013.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|m]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0014.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|n]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0015.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|o]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0016.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|p]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0017.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|q]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0018.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|r]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0019.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|s]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0020.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|t]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0021.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0022.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri|a]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0022.jpg&amp;diff=1909</id>
		<title>Berkas:ISI page-0022.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0022.jpg&amp;diff=1909"/>
		<updated>2023-09-12T01:55:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0021.jpg&amp;diff=1908</id>
		<title>Berkas:ISI page-0021.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0021.jpg&amp;diff=1908"/>
		<updated>2023-09-12T01:55:24Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0020.jpg&amp;diff=1907</id>
		<title>Berkas:ISI page-0020.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0020.jpg&amp;diff=1907"/>
		<updated>2023-09-12T01:54:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;t&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0019.jpg&amp;diff=1906</id>
		<title>Berkas:ISI page-0019.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0019.jpg&amp;diff=1906"/>
		<updated>2023-09-12T01:54:29Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;s&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0018.jpg&amp;diff=1905</id>
		<title>Berkas:ISI page-0018.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0018.jpg&amp;diff=1905"/>
		<updated>2023-09-12T01:53:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;r&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0017.jpg&amp;diff=1904</id>
		<title>Berkas:ISI page-0017.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0017.jpg&amp;diff=1904"/>
		<updated>2023-09-12T01:53:32Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;q&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0016.jpg&amp;diff=1903</id>
		<title>Berkas:ISI page-0016.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0016.jpg&amp;diff=1903"/>
		<updated>2023-09-12T01:52:38Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;p&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0015.jpg&amp;diff=1902</id>
		<title>Berkas:ISI page-0015.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0015.jpg&amp;diff=1902"/>
		<updated>2023-09-12T01:52:03Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;o&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0014.jpg&amp;diff=1901</id>
		<title>Berkas:ISI page-0014.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0014.jpg&amp;diff=1901"/>
		<updated>2023-09-12T01:51:34Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;n&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0013.jpg&amp;diff=1900</id>
		<title>Berkas:ISI page-0013.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0013.jpg&amp;diff=1900"/>
		<updated>2023-09-12T01:51:08Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;m&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0012.jpg&amp;diff=1899</id>
		<title>Berkas:ISI page-0012.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0012.jpg&amp;diff=1899"/>
		<updated>2023-09-12T01:50:37Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;l&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0011.jpg&amp;diff=1898</id>
		<title>Berkas:ISI page-0011.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0011.jpg&amp;diff=1898"/>
		<updated>2023-09-12T01:50:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;k&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0010.jpg&amp;diff=1897</id>
		<title>Berkas:ISI page-0010.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0010.jpg&amp;diff=1897"/>
		<updated>2023-09-12T01:49:06Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;j&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0009.jpg&amp;diff=1896</id>
		<title>Berkas:ISI page-0009.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0009.jpg&amp;diff=1896"/>
		<updated>2023-09-12T01:48:23Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;h&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0008.jpg&amp;diff=1895</id>
		<title>Berkas:ISI page-0008.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0008.jpg&amp;diff=1895"/>
		<updated>2023-09-12T01:47:48Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;h&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0007.jpg&amp;diff=1894</id>
		<title>Berkas:ISI page-0007.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0007.jpg&amp;diff=1894"/>
		<updated>2023-09-12T01:47:04Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;g&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0006.jpg&amp;diff=1893</id>
		<title>Berkas:ISI page-0006.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0006.jpg&amp;diff=1893"/>
		<updated>2023-09-12T01:46:43Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;f&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0005.jpg&amp;diff=1892</id>
		<title>Berkas:ISI page-0005.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0005.jpg&amp;diff=1892"/>
		<updated>2023-09-12T01:45:55Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;e&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0004.jpg&amp;diff=1891</id>
		<title>Berkas:ISI page-0004.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0004.jpg&amp;diff=1891"/>
		<updated>2023-09-12T01:45:01Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;d&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0003.jpg&amp;diff=1890</id>
		<title>Berkas:ISI page-0003.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0003.jpg&amp;diff=1890"/>
		<updated>2023-09-12T01:44:02Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;c&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1889</id>
		<title>Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Peraturan_Pemerintah_Nomor_28_Tahun_2023_tentang_Jenis_dan_Tarif_atas_Jenis_Penerimaan_Negara_Bukan_Pajak_(PNBP)_yang_Berlaku_pada_Kementerian_Pertanian&amp;diff=1889"/>
		<updated>2023-09-12T01:42:11Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: ←Membuat halaman berisi &amp;#039;kiri kiri&amp;#039;&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;[[Berkas:Pnbp.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0002.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0002.jpg&amp;diff=1888</id>
		<title>Berkas:ISI page-0002.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0002.jpg&amp;diff=1888"/>
		<updated>2023-09-12T01:41:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;b&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:Pnbp.jpg&amp;diff=1887</id>
		<title>Berkas:Pnbp.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:Pnbp.jpg&amp;diff=1887"/>
		<updated>2023-09-12T01:40:42Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;1&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1886</id>
		<title>Hierarki Peraturan</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Hierarki_Peraturan&amp;diff=1886"/>
		<updated>2023-09-12T01:32:59Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Uu.jpg|al=|pus|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang - Undang]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-undang Nomer 21 Tahun 2019]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Undang-Undang Nomor 16 Tahun 1992|Undang-undang Nomer 16 Tahun 1992]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pp.jpg|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000|Peraturan Pemerintah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2023]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2023 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berlaku pada Kementerian Pertanian]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Kementan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Peraturan Menteri]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 3238 Tahun 2009]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 41 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 44 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[PERATURAN MENTERI PERTANIAN|Permentan Nomor 70 Tahun 2015]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Barantan.png|nirbing|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 184b Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 349 Tahun 2006]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 374 Tahun 2010]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 832 Tahun 2013]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 395 Tahun 2014]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian|Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 406 Tahun 2004]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Perda.jpg|al=|pus|nirbing|208x208px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Aturan Daerah]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
*&#039;&#039;[[Aturan Daerah|Edaran Gubernur Jatim No 524 Tahun 2011]]&#039;&#039;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Lainnya.jpg|pus|nirbing|al=|200x200px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;Aturan Lainnya&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
==&#039;&#039;&#039;[[SOP (STANDARD OPERATING PROCEDURE)]]&#039;&#039;&#039;==&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
====&#039;&#039;[[PROSEDUR TINDAKAN KARANTINA DALAM RANGKA PENINGKATAN KEWASPADAAN PEMASUKAN MEDIA PEMBAWA PENYAKIT NOVEL CORONA VIRUS (COVID-19) DARI NEGARA TERTULAR DI BANDARA JUANDA SURABAYA]]&#039;&#039;====&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
1. Latar Belakang&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Novel coronavirus atau dinamai oleh WHO sebagai COVID-19 juga dikenal sebagai flu Wuhan dan pneumonia Wuhan yang merupakan virus korona RNA untai tunggal yang dilaporkan pada tahun 2019.  Virus ini viral sejak awal Januari 2020, Pertama kali ditemukan di Wuhan China, lalu menyebar ke Hongkong dan Makau.  Penyakit pernapasan ini mirip SARS, menyerang paru-paru gejala seperti sedang sakit flu dan dapat menular dari manusia ke manusia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Coronavirus merupakaan zoonosis, yaitu penyakit yang secara alami menular dari hewan ke manusia. Reservoir utama dari penyakit ini adalah onta, sapi, kucing dan kelelawar. Akan tetapi, pada sekuens whole genome virus COVID-19 dilaporkan memiliki kesamaan reseptor sel dengan ular sehingga dilakukan  kajian lebih lanjut apakah ular dapat menjadi inang reservoir virus ini. Penyakit pneumonia yang disebabkan oleh COVID-19 memiliki gejala sangat umum seperti penyakit saluran pernafasan atas biasa, yaitu demam, sakit tenggorokan, batuk, dan flu.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Update penyakit nCoV- 2019 terakhir dari WHO tanggal 7 Pebruri 2020 01:00 GMT kematian di China karena penyakit ini tercatat 636 orang, di Hong Kong 1 orang dan di Philiphina 1 orang.  Yang terinfeksi ada 31.481 kasus dan yang dapat disembuhkan sebanyak 1.563 orang.  Saat ini sudah 28 negara yang terinfeksi penyakit ini, dan Indonesia masih dinyatakan bebas.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Untuk mengantisipasi penyebaran penyakit ini maka melalui lalulintas hewan dan produknya dari negara tertular maka Badan Karantina Pertanian mengeluarkan Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (N-CoV-2019).  Peningkatan pengawasan dan tindakan karantina terhadap media pembawa yang berisiko tinggi antara lain, kelelawar, anjing, kucing, rodensia dan burung sesuai refrensi dari World Organization of Animal Health (WOAH/OIE).&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Terkait dengan instruksi yang dikeluarkan oleh Badan Karantina Pertanian maka Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya menyusun Standard Operating Procedure (SOP) Tindakan Karantina Hewan dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit Novel Corona Virus (N-CoV-2019) dari negara tertular di bandara Juanda dan Tanjung Perak Surabaya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
2. Tujuan &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) tentang  tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular  mempunyai tujuan :&lt;br /&gt;
::(a)	Sebagai pedoman pelaksanaan tindakan Karantina terhadap Media Pembawa (MP) HPHK untuk penyakit novel corona virus (COVID-19)  dari negara tertular&lt;br /&gt;
::(b)	Keseragaman dalam pelaksanaan tindakan karantina oleh pejabat fungsional Medik dan Paramedik Veteriner.&lt;br /&gt;
::(c)	Mendorong terwujudnya pelayanan yang efisien, berkualitas, cepat, mudah, transparan dan terukur&lt;br /&gt;
::(d)	Menerapkan Sistem Manajemen Mutu Pelayanan dengan lebih baik yang mengacu kepada  SNI ISO 9001-2015&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
3. Dasar Hukum&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Standard Operating Procedure (SOP) tindakan karantina dalam rangka peningkatan kewaspadaan pemasukan media pembawa penyakit novel corona virus (COVID-19) merujuk kepada :&lt;br /&gt;
::(a) Undang-undsng Nomor 21 Tahun 2019 tentang Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan&lt;br /&gt;
::(b) Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000 tentang Karantina Hewan;&lt;br /&gt;
::(c) SK Menteri Pertanian No. 3238 Tahun 2010 Tentang Penggolongan Jenis- jenis HPHK&lt;br /&gt;
::(d) Permentan No. 12/ 2015 tentang Tindakan Karantina Hewan dan Tumbuhan terhadap pemasukan Media Pembawa HPHK dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina.&lt;br /&gt;
::(e) Peraturan Pemerintah No. 35 tahun 2016 tentang Jenis dan Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang berlaku pada Kementerian Pertanian.&lt;br /&gt;
::(f) Surat Edaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan No. 00964/SE/PK.320/F/02/2020 tentang Kewaspadaan Dini Terhadap Infeksi Novel Corona Virus (COVID-19)&lt;br /&gt;
::(g) Instruksi Kewaspadaan Penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19) No. 1487/KR.120/K/01/2020&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
4. Ruang Lingkup&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Ruang lingkup SOP penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)  yang masuk melalui tempat pemasukan/pengeluaran wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya meliputi Persyaratan administrasi dan persyaratan teknis.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
5. Sasaran&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:Sasaran utama penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) penanganan terhadap media pembawa hewan dan produk hewan yang berasal dari negara tertular Novel Corona Virus (COVID-19)melalui tempat pemasukan/pengeluaran di wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya adalah sebagai dasar  Petugas Karantina  Medik   dan Paramedik Veteriner untuk melaksanakan tugas dan fungsinya sesuai Peraturan yang berlaku, sehingga penyelenggaraan pelayanan Karantina Pertanian dapat tercapai secara optimal.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
6. Prosedur &lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
:a.	Kepala Balai melalui Penanggung Jawab Wilayah Kerja memberikan penugasan kepada Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner (PV) melalui KH2&lt;br /&gt;
:b.	Paramedik Veteriner berdasarkan penugasan melakukan pengumpulan data jadual kedatangan alat angkut dari negara tertular COVID-19&lt;br /&gt;
:c.	Disamping jadual kedatangan MP HPHK, PV melakukan identifikasi MP-HPHK dari negara tertular, cargomanifest dan barang bawaan penumpang&lt;br /&gt;
:d.	Medik Veteriner (MV) melakukan pemeriksaan kelengkapan dan keabsahan dokumen, apabila tidak lengkap dan tidak absah maka berkas diserahkan ke Kasie Wasdak, apabila dokumen lengkap dan absah maka dilakukan tindakan selanjutnya.&lt;br /&gt;
:e.	Paramedik Veteriner melakukan desinfeksi terhadap MP HPHK dan kemasan.  Kendaraan yang akan membawa MP disucihama dan petugas menggunakan APD (sarung tangan dan masker)&lt;br /&gt;
:f.	Media pembawa yang berada di cargo/terminal dilakukan pemeriksaan fisik  oleh MV dibantu oleh PV dan apabila perlu dilakukan tindakan karantina lebih lanjut maka diterbitkan KH7,  Surat Perintah Masuk Karantina Hewan di tandatangani oleh Medik Veteriner penanggung jawab kegiatan.&lt;br /&gt;
:g.	Dalam pengangkutan MP ke Instalasi KH di kawasan Bandara/Pelabuhan dibawah pengawasan petugas karantina&lt;br /&gt;
:h.	Di Instalasi karantina  MP HPHK (Hewan atau produk hewan) dilakukan pengasingan, pengamatan dan perlakuan berupa emeriksaan fisik dan pengambilan sampel untuk uji laboratorium.  Selama dalam pelaksanaan tindakan karantina di iKH petugas karantina menggunakan APD&lt;br /&gt;
:i.	Sampel uji kemudian di kirim ke laboratorium untuk pengujian laboratorium dengan PCR.&lt;br /&gt;
:j.	Medik Veteriner melakukan diagnosa terhadap hewan berdasarkan hasil perlakuan dan hasil uji laboratorium.   Hasil uji laboratorium dapat menjadi penentu tindakan selanjutnya&lt;br /&gt;
:k.	Pelaksanaan tindakan karantina di Instalasi Karantina Hewan dan pengujian laboratorium dilakukan analisa dan rekomendasi serta penilaian oleh Medik Veteriner Madya. Verifikasi ini untuk menjamin bahwa pelepasan MP sudah memenuhi persyaratan tindakan karantina.&lt;br /&gt;
:l.	Apabila hasil pemeriksaan laboratorium dinyatakan positif maka media pembawa tersebut harus di tolak (KH-9a dan 9b).  Apabila pemilik tidak dapat melaksanakan reekspor MP sampai batas waktu yang ditentukan maka MP tersebut harus dimusnahkan (KH-10a dan 10b)&lt;br /&gt;
:m.	Apabila hasil uji laboratorium dinyatakan negatif, tidak ditemukan hama penyakit hewan yang di curigai, dan kondisi MP sehat /kemasan baik maka MP dibebaskan dengan menerbitkan KH-14.&lt;br /&gt;
:n.	Medik Vetriner  yang mendapat penugasan akan menandatangani sertifikat pelepasan (KH-14)&lt;br /&gt;
:o.	Bendahara penerima akan mengeluarkan kuitansi jasa tindakan karantina&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
[[Berkas:Covidsop1.png|7500x17500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-1.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
[[Berkas:SOP NCOV-2-2.jpg|1500x1500px|jmpl|kiri]]&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1885</id>
		<title>Halaman Utama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1885"/>
		<updated>2023-09-12T01:22:41Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;&#039;Q-CAK | Infokawan&#039;&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:Pmk1.jpg|pus|450x450px|link=PMK (Penyakit Mulut &amp;amp; Kuku)]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:ASF.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - ASF (African Swine Fever) ]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:PPR.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - PPR (Peste de Petits Ruminants) ]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:LSD.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - LSD (Lumpy Skin Disease) ]]&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{DISPLAYTITLE:&amp;lt;span style=&amp;quot;position: absolute; clip: rect(1px 1px 1px 1px); clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);&amp;quot;&amp;gt;{{FULLPAGENAME}}&amp;lt;/span&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Peraturan.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px|link=#Apa_itu_Sarang_Burung_Walet_.3F]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Hierarki Peraturan|Peraturan Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Peraturan yang mengatur pelaksanaan perkarantinaan mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Pertanian, Surat Keputusan Kepala Badan Karantina dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pemeriksaan_Hewan.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Pemeriksaan_Hewan.jpg|al=|pus|nirbing|534x534px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Prosedur Karantina Hewan|Prosedur Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Tindakan karantina hewan (disingkat TKH) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah sejumlah penyakit hewan (disebut hama dan penyakit hewan karantina atau HPHK) masuk ke, tersebar di, dan atau keluar dari wilayah negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Laboratoriumkh.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Laboratoriumkh.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Uji Laboratorium Sarang Burung Walet|Laboratorium Uji Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Dalam hal tindakan karantina hewan, jika melalui pemeriksaan belum dapat dikukuhkan diagnosisnya, maka dokter hewan karantina dapat melanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium atau teknik dan metode pemeriksaan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi..&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sarang_walet.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=[[Sarang Burung Walet|&#039;&#039;&#039;Sarang Burung Walet&#039;&#039;&#039;]]=&lt;br /&gt;
Sarang Walet Bersih adalah sarang walet yang telah mengalami proses pembersihan dari bulu dan kotoran lainnya, sehingga sebagian besar bulu dan kotoran telah hilang dan dengan pengamatan secara visual (mata telanjang) dengan jarak 20-30 cm terlihat bersih dari bulu dan kotoran.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sapi.jpg|pus|nirbing|al=|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Sapi]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Sapi&#039;&#039;&#039; adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri dan biasanya digunakan untuk membajak sawah dinamakan &#039;&#039;&#039;Lembu&#039;&#039;&#039;. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingannya seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia.&lt;br /&gt;
|}&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1884</id>
		<title>Halaman Utama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1884"/>
		<updated>2023-09-12T01:21:53Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: /* TARIF PNBP */&lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;&#039;Q-CAK | Infokawan&#039;&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:Pmk1.jpg|pus|450x450px|link=PMK (Penyakit Mulut &amp;amp; Kuku)]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:ASF.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - ASF (African Swine Fever) ]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:PPR.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - PPR (Peste de Petits Ruminants) ]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:LSD.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - LSD (Lumpy Skin Disease) ]]&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{DISPLAYTITLE:&amp;lt;span style=&amp;quot;position: absolute; clip: rect(1px 1px 1px 1px); clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);&amp;quot;&amp;gt;{{FULLPAGENAME}}&amp;lt;/span&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Peraturan.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px|link=#Apa_itu_Sarang_Burung_Walet_.3F]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Hierarki Peraturan|Peraturan Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Peraturan yang mengatur pelaksanaan perkarantinaan mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Pertanian, Surat Keputusan Kepala Badan Karantina dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pemeriksaan_Hewan.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Pemeriksaan_Hewan.jpg|al=|pus|nirbing|534x534px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Prosedur Karantina Hewan|Prosedur Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Tindakan karantina hewan (disingkat TKH) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah sejumlah penyakit hewan (disebut hama dan penyakit hewan karantina atau HPHK) masuk ke, tersebar di, dan atau keluar dari wilayah negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Laboratoriumkh.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Laboratoriumkh.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Uji Laboratorium Sarang Burung Walet|Laboratorium Uji Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Dalam hal tindakan karantina hewan, jika melalui pemeriksaan belum dapat dikukuhkan diagnosisnya, maka dokter hewan karantina dapat melanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium atau teknik dan metode pemeriksaan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi..&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sarang_walet.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=[[Sarang Burung Walet|&#039;&#039;&#039;Sarang Burung Walet&#039;&#039;&#039;]]=&lt;br /&gt;
Sarang Walet Bersih adalah sarang walet yang telah mengalami proses pembersihan dari bulu dan kotoran lainnya, sehingga sebagian besar bulu dan kotoran telah hilang dan dengan pengamatan secara visual (mata telanjang) dengan jarak 20-30 cm terlihat bersih dari bulu dan kotoran.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sapi.jpg|pus|nirbing|al=|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Sapi]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Sapi&#039;&#039;&#039; adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri dan biasanya digunakan untuk membajak sawah dinamakan &#039;&#039;&#039;Lembu&#039;&#039;&#039;. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingannya seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[TARIF PNBP]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
[[Berkas:ISI page-0001.jpg|4500x4500px|nirbing|kiri]]&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0001.jpg&amp;diff=1883</id>
		<title>Berkas:ISI page-0001.jpg</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Berkas:ISI_page-0001.jpg&amp;diff=1883"/>
		<updated>2023-09-12T01:20:52Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;a&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
	<entry>
		<id>https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1882</id>
		<title>Halaman Utama</title>
		<link rel="alternate" type="text/html" href="https://infokawan.karantina.id/index.php?title=Halaman_Utama&amp;diff=1882"/>
		<updated>2023-09-12T01:18:49Z</updated>

		<summary type="html">&lt;p&gt;1nilamsari: &lt;/p&gt;
&lt;hr /&gt;
&lt;div&gt;__NOTOC__&lt;br /&gt;
= &#039;&#039;&#039;Q-CAK | Infokawan&#039;&#039;&#039; =&lt;br /&gt;
&amp;lt;br&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:Pmk1.jpg|pus|450x450px|link=PMK (Penyakit Mulut &amp;amp; Kuku)]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:ASF.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - ASF (African Swine Fever) ]]&amp;lt;br /&amp;gt;&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
![[Berkas:PPR.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - PPR (Peste de Petits Ruminants) ]]&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{|&lt;br /&gt;
![[Berkas:LSD.jpg|pus|450x450px|link=HPHK - LSD (Lumpy Skin Disease) ]]&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{{DISPLAYTITLE:&amp;lt;span style=&amp;quot;position: absolute; clip: rect(1px 1px 1px 1px); clip: rect(1px, 1px, 1px, 1px);&amp;quot;&amp;gt;{{FULLPAGENAME}}&amp;lt;/span&amp;gt;}}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
{| class=&amp;quot;wikitable&amp;quot;&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Peraturan.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px|link=#Apa_itu_Sarang_Burung_Walet_.3F]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Hierarki Peraturan|Peraturan Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Peraturan yang mengatur pelaksanaan perkarantinaan mengacu pada Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri Pertanian, Surat Keputusan Kepala Badan Karantina dan sebagainya.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Pemeriksaan_Hewan.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Pemeriksaan_Hewan.jpg|al=|pus|nirbing|534x534px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Prosedur Karantina Hewan|Prosedur Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Tindakan karantina hewan (disingkat TKH) adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah sejumlah penyakit hewan (disebut hama dan penyakit hewan karantina atau HPHK) masuk ke, tersebar di, dan atau keluar dari wilayah negara Republik Indonesia.&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Laboratoriumkh.jpg|pra=Istimewa:Lokasi_berkas/Laboratoriumkh.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Uji Laboratorium Sarang Burung Walet|Laboratorium Uji Karantina Hewan]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
Dalam hal tindakan karantina hewan, jika melalui pemeriksaan belum dapat dikukuhkan diagnosisnya, maka dokter hewan karantina dapat melanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium atau teknik dan metode pemeriksaan lainnya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi..&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sarang_walet.jpg|al=|pus|nirbing|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=[[Sarang Burung Walet|&#039;&#039;&#039;Sarang Burung Walet&#039;&#039;&#039;]]=&lt;br /&gt;
Sarang Walet Bersih adalah sarang walet yang telah mengalami proses pembersihan dari bulu dan kotoran lainnya, sehingga sebagian besar bulu dan kotoran telah hilang dan dengan pengamatan secara visual (mata telanjang) dengan jarak 20-30 cm terlihat bersih dari bulu dan kotoran.&lt;br /&gt;
|-&lt;br /&gt;
|[[Berkas:Sapi.jpg|pus|nirbing|al=|500x500px]]&lt;br /&gt;
|&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[Sapi]]&#039;&#039;&#039;=&lt;br /&gt;
&#039;&#039;&#039;Sapi&#039;&#039;&#039; adalah hewan ternak anggota suku Bovidae dan anak suku Bovinae. Sapi yang telah dikebiri dan biasanya digunakan untuk membajak sawah dinamakan &#039;&#039;&#039;Lembu&#039;&#039;&#039;. Sapi dipelihara terutama untuk dimanfaatkan susu dan dagingnya sebagai pangan manusia. Hasil sampingannya seperti kulit, jeroan, tanduk, dan kotorannya juga dimanfaatkan untuk berbagai keperluan manusia.&lt;br /&gt;
|}&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
&lt;br /&gt;
=&#039;&#039;&#039;[[TARIF PNBP]]&#039;&#039;&#039;=&lt;/div&gt;</summary>
		<author><name>1nilamsari</name></author>
	</entry>
</feed>