Test ASF: Perbedaan antara revisi
Dari Infokawan
1nilamsari (bicara | kontrib) |
1nilamsari (bicara | kontrib) |
||
| Baris 112: | Baris 112: | ||
'''Kejadian outbreak ASF di Negara | '''Kejadian outbreak ASF di Negara Asia :''' | ||
# China: 3 Agustus 2018, 158 outbreak di 32 propinsi | # China: 3 Agustus 2018, 158 outbreak di 32 propinsi | ||
# Mongolia: 15 Januari 2019, 11 outbreak di 6 propinsi | # Mongolia: 15 Januari 2019, 11 outbreak di 6 propinsi | ||
Revisi per 3 Oktober 2019 08.36
AFRICAN SWINE FEVER
Apakah African Swine Fever itu?
- African Swine Fever (ASF) adalah penyakit demam disertai dengan pendarahan yang sangat menular yang menyerang babi domestik dan liar, yang menyebabkan kerugian ekonomi yang besar dan menghambat produksi babi di negara-negara yang terkena dampak ASF (kesakitan atau morbiditas dan kematian atau mortalitas pada ternak babi hingga dapat mencapai tingkat 100%). Tidak ada vaksin untuk mencegah virus ASF dan untuk membatasi penyakit ini pilihannya adalah dengan melakukan pengendalian penyakit ASF.
Apakan penyebab penyakit ini ?
- Penyakit ASF disebabkan oleh African Swine Fever Virus (ASFV) yang termasuk virus DNA dengan strand ganda, virus ASF yang bereplikasi terutama di sitoplasma dan merupakan satu-satunya anggota keluarga Asfarviridae genus Asfivirus yang juga menginfeksi caplak genus Ornithodoros.

Negara mana yang sudah tertular penyakit ASF ?
- Virus ASF telah tersebar di 3 (tiga) benua (Afrika, Eropa dan Asia) sejak Juni 2018 berdasarkan data dari International Organisation for Animal Health. Penyebaran penyakit ASF dapat dilihat pada peta di bawah ini:

- Afrika: Kenya, Angola, Kameron, Nigeria, Senegal, Capeverde, Cote d'Ivoire, Benin,Togo, Ghana, Gambia, Mozambik, Madagaskar, Chad, Zimbabwe, Afrika Selatan, Burkina Faso, Zambia.
- Amerika: Brazil, Kuba, Haiti, Republik Dominika
- Eropa: Italia, Bulgaria, Hungaria, Latvia, Moldova, Polandia, Estonia, Rumania, Rusia, Serbia, Slovakia, Ukraina, Lithuania.
- Asia: RRC, Hongkong, Mongolia, Korea Utara, Korea Selatan, Vietnam, Laos, Myanmar, Filipina, Kamboja, Timor Leste.

Kejadian outbreak ASF di Negara Asia :
- China: 3 Agustus 2018, 158 outbreak di 32 propinsi
- Mongolia: 15 Januari 2019, 11 outbreak di 6 propinsi
- Vietnam: 19 Februari 2019, 63 propinsi
- Kamboja: 2 April 2019, 5 propinsi
- Korea Utara: 23 Mei 2019, 1 propinsi
- Laos: 20 Juni 2019, 94 outbreak, 15 propinsi
- Filipina: 25 Juni 2019, 11 outbreak, 4 propinsi
- Myanmar: 1 Agustus 2019, 3 outbreak, 1 propinsi
- Korea Selatan: 17 September 2019,7 outbreak, 2 propinsi
- Timor Leste: 27 September 2019
Hewan apa saja yang dapat tertular penyakit ini?

- A. Babi domestik/ peliharaan
- B. Babi hutan
- C. Babi semak
- D. Warthog
- E. Giant forest hog
- F. Caplak Ornithodoros erraticus
Apakah ciri-ciri babi tertular African Swine Fever?
- Ciri-ciri atau gejala klinis babi tertular African Swine Fever:
- Bentuk Akut: demam tinggi, depresi, nafsu makan menurun, perdarahan pada kulit (kemerahan pada telinga, perut dan kaki), keguguran pada babi bunting, cyanosis (kebiruan), muntah, diare dan kematian dalam waktu 6 – 13 hari (atau sampai 20 hari). Angka kematian bisa mencapai 100%.
- Bentuk Subakut dan Kronis disebabkan oleh virus yang memiliki tingkat keganasan sedang atau rendah, yang menghasilkan intensitas gejala klinis kurang kuat dalam periode waktu yang lama. Angka kematian lebih rendah, namun masih berkisar 30 – 70%. Gejala klinis bentuk kronis termasuk penurunan berat badan, demam intermiten (naik-turun), gejala pernafasan, luka pada kulit kronis dan radang sendi.
- Berbagai jenis babi mungkin memiliki kerentanan yang berbeda terhadap infeksi virus ASF. Babi hutan Afrika dapat terinfeksi tanpa menunjukkan gejala klinis yang memungkinkan hewan tersebut dapat berperan sebagai hewan pembawa.

- A. Babi terlihat lemah dengan demam dan meringkuk untuk tetap hangat.
- B-E. Diare berdarah dan daerah hiperemik (merah) yang berbeda pada kulit leher, dada dan ekstremitas.
- F. Cyanosis (bluing) di ujung telinga.
- G-I. Lesi nekrotik pada kulit perut, leher dan telinga.
- Penyakit ASF dapat menular ke babi melalui:
- Kontak langsung dengan babi peliharaan lain atau babi hutan yang terinfeksi;
- Kontak tidak langsung melalui konsumsi bahan yang terkontaminasi (misal: limbah makanan, pakan, atau sampah);
- Bagian dari tubuh babi yang tertular ASF dan semua benda yang terkontaminasi atau terpapar ASF virus
- Vektor biologis (caplak dari genus Ornithodoros)

- ASF adalah penyakit virus yang hanya berdampak pada babi, bukan manusia. Jadi penyakit ini bukan merupakan suatu ancaman bagi kesehatan masyarakat atau masalah keamanan pangan. ASF tidak dapat ditularkan ke manusia melalui kontak dengan babi atau daging babi.
Apabila saya mengkonsumsi daging babi yang menderita ASF apakah dapat menggangu kesehatan?
- Tidak, karena ASF tidak menyebabkan penyakit pada manusia.
- Melaporkan ke Dinas yang membidangi Fungsi Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner atau ke Pos Kesehatan Hewan terdekat untuk dapat dilakukan tindakan selanjutnya. Untuk ternak babi yang terindikasi agar dipisahkan dari ternak yang sehat sampai ada penanganan selanjutnya dari petugas Dinas atau Poskeswan.
Bagaimana cara melindungi ternak kami dari penularan penyakit ASF?
Untuk melindungi peternakan babi dari kemungkinan penularan penyakit ASF adalah dengan mengedepankan Biosecurity. Beberapa hal penting terkait biosecurity untuk mencegah masuknya penyakit ini ke suatu daerah antara lain :
- Visitor atau pengunjung ke suatu peternakan harus melewati tempat desinfeksi (bisa berupa penyemprotan menggunakan desinfektan tertentu seperti glutaral dehyde, mencuci tangan sebelum masuk ke dalam peternakan, diberikan sepatu boot yang sudah didesinfeksi khusus untuk masuk ke dalam peternakan serta diberikan pakaian khusus sebelum masuk kedalam sebuah peternakan).
- Karantina babi yang baru saja ditransfer atau masuk ke dalam suatu kandang atau peternakan selama minimal 14 hari.
- Memperhatikan hygiene dan sanitasi kandang.
- Desinfeksi rutin untuk kandang menggunakan desinfektan yang dapat membunuh virus ini. Desinfektan yang digunakan adalah golongan ether dan klorofoam selama minimal 30 menit (8/1000 Sodium hydroxide, hypochlorite, 2.3% chlorine, 3/100 formalin, 3% ortho-phenylphenol, komponen iodine).
- Memasang pagar dengan jarak minimal 10 meter dari kandang untuk mencegah masuknya babi hutan yang merupakan vektor pembawa virus.
- Tidak memberikan makanan sisa limbah dapur ke babi karena makanan tersebut bisa saja merupakan mengandung bahan dasar daging babi yang tidak dimasak dengan baik sehingga virus tetap bertahan hidup dan mempermudah penyebaran penyakit ASF.
- Memperketat pengawasan dan pemeriksaan terhadap pemasukan babi dan produk babi (segar dan olahan) yang berasal dari negara yang tidak sedang wabah.
Apakah boleh membawa daging babi dan olahannya dari negara tertular ASF?
- Untuk kewaspadaan terhadap masuknya penyakit ASF maka pemasukan ternak babi, daging babi segar dan produk olahannya dari negara tertular DILARANG karena Indonesia masih dinyatakan BEBAS dari penyakit African Swine Fever.