Test Rabies
Dari Infokawan
PENYAKIT ANJING GILA (RABIES)
Apakah Rabies itu ?
- Rabies dalah penyakit infeksi akut pada sistem saraf mamalia (termasuk manusia) yang disebabkan oleh virus rabies (RABV). Penyakit ini sangat mematikan dan bersifat zoonotik atau menular dari hewan ke manusia. Penularan terjadi akibat partikel virus yang berada dalam air liur hewan terinfeksi berhasil masuk ke dalam tubuh manusia atau hewan peka, misalnya melalui gigitan. Hewan yang menularkan rabies di antaranya anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar.
Apakah Penyebab Rabies?
- Rabies disebabkan Rabies Lyssavirus (Rabies Virus/RABV) yang merupakan virus RNA neurotropik dari genus Lyssavirus dalam keluarga Rhabdoviridae dari ordo Mononegavirales, dan ditularkan ke semua mamalia.

Gambar 1. Ilustrasi Tiga Dimensi Bentuk Virus Rabies
- Hewan yang dapat menularkan rabies atau disebut sumber infeksi hewan pembawa rabies (HPR), antara lain anjing, kucing, kera, kelelawar, rakun dan musang. Sedangkan hewan seperti sapi, lembu atau kelinci bisa tertular tapi tidak menularkan ke manusia, atau disebut dead end. semua hewan berdarah panas bisa memiliki virus rabies. Namun, biasanya virus rabies paling sering ditemukan pada satwa liar seperti rubah, kelelawar, dan anjing serta kucing yang tidak divaksinasi. Di Indonesia sendiri, anjing menjadi hewan yang paling banyak menularkan virus rabies.
Negara mana saja yang tertular (terjadi kasus) Rabies ?
- Afghanistan, Albania, Algeria, Andaman and Nicobar Islands, Angola, Anguilla, Antarctica, Armenia, Azerbaijan, Bahamas, Balearic Islands, Bangladesh, Belize, Benin, Bhutan, Bolivia, Borneo, Botswana, Brazil, Brunei Darussalam, Burkina Faso, Burma, Burundi, Cabrera, Cambodia, Cameroon, Cape Verde, Central African Republic, Ceuta, Chad, Channel Islands, China, Christmas Island, Cocos (Keeling) Islands, Cook Islands, Corsica, China, Colombia, Comoros, Congo, Costa Rica, Cuba, Cyprus, Turkish Republic of (Northern), Djibouti, Dominica, Dominican Republic, East Timor, Easter Island, Ecuador, Egypt, El Salvador, Equatorial Guinea, Eritrea, Ethiopia, Fatuna, Formentera, Galapagos Islands, Gabon, Gambia, Georgia, Ghana, Grenada, Guatemala, Guinea, Guinea-Bissau, Guyana, Haiti, Herzegovina, Honduras, India, Indonesia, Iran, Iraq, Israel, Ivory Coast, Jordan, Kazakhstan, Kenya, Korea (North and South), Kosovo, Kuwait, Kyrgyzstan, Laos, Lebanon, Lesotho, Liberia, Libya, Macau, Madagascar, Malawi, Maldives, Mali, Margarita Islands, Martinique, Mauritania, Melilla, Miquelon, Moldova, Monaco, Mongolia, Montenegro, Morocco, Mozambique, Myanmar (Burma), Namibia, Nepal, Nicaragua, Niger, Nigeria, Northern Cyprus, Oman, Pakistan, Palestine, Panama, Papua New Guinea, Peru, Philippines, Qatar, Rwanda, Samoa, Saint Barthelemy, San Marino, Saudi Arabia, Senegal, Serbia, Seychelles, Sierra Leone, Somalia, South Africa, Sri Lanka, Suriname, Sudan, Swaziland, Syria, Tajikistan, Tanzania, Thailand, Tibet, Togo, Tonga, Tunisia, Turkey, Turkmenistan, Turks and Caicos Islands, Uganda, Ukraine, Uruguay, Uzbekistan, Western Sahara, Venezuela, Vietnam, Yemen, Zambia, Zanzibar and Zimbabwe.
Wilayah mana saja di Indonesia yang menjadi daerah tertular rabies?
- 25 provinsi dari 34 provinsi di Indonesia menjadi wilayah endemis rabies. Ke-25 provinsi yang merupakan daerah tertular rabies tersebut antara lain: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung, Banten, Jawa Barat, Bali, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat (kecuali Pulau Lombok), Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, Sulawesi Barat, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara.

- Di Indonesia, rabies pertama kali ditemukan pada seekor kuda pada tahun 1884, disusul temuan pada kerbau di tahun 1889, anjing di tahun 1890, dan manusia pada 1894.[14] Saat ini, terdapat beberapa wilayah yang secara resmi dinyatakan bebas dari rabies melalui Keputusan Menteri Pertanian (Kepmentan).

- Selain status bebas rabies, pemerintah juga menetapkan kawasan karantina dan pernyataan wabah di beberapa wilayah.

Bagaimana cara mencegah agar hewan peliharaan (anjing, kucing) tidak tertular rabies?
- Vaksinasi hewan peliharaan, baik anjing, kucing, monyet, maupun musang. Pertahankan vaksinasinya, dengan pengulangan secara berkala. Lindungi hewan peliharaan kecil, beberapa hewan peliharaan tidak dapat divaksin, jadi hindari meliarkan hewan-hewan ini. Hindari berdekatan dengan hewan liar, karena beberapa hewan liar lebih mudah terinfeksi, terutama anjing. Sterilkan hewan peliharaan. Steril mencegah perkembangbiakan berlebihan, yang meningkatkan jumlah hewan liar akibat tidak terurus dan ditelantarkan.
Apakah di daerah bebas rabies boleh melakukan vaksinasi rabies pada hewan peliharaan (anjing, kucing)?
Apakah ciri-ciri anjing yang terkena rabies ?
Apakah hewan lain bisa tertular rabies?
Bagaimana cara penularan dari anjing ke manusia?
Apakah yang mempengaruhi perkembangan rabies pada manusia?
Apakah ciri-ciri pada manusia yang tertular rabies?
- Gejala atau ciri-ciri pada manusia yang tertular rabies biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi. Masa inkubasi virus hingga munculnya penyakit adalah 10-14 hari pada anjing tetapi bisa mencapai 9 bulan pada manusia. Bila disebabkan oleh gigitan anjing, luka yang memiliki risiko tinggi meliputi infeksi pada mukosa, luka di atas daerah bahu (kepala, muka, leher), luka pada jari tangan atau kaki, luka pada kelamin, luka yang lebar atau dalam, dan luka yang banyak. Sedangkan luka dengan risiko rendah meliputi jilatan pada kulit yang luka, garukan atau lecet, serta luka kecil di sekitar tangan, badan, dan kaki. Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:
- a. Stadium prodromal
- Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain sebagainya.
- b. Stadium sensoris
- Dalam stadium sensoris penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.
- c. Stadium eksitasi
- Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.
- d. Stadium paralitik
- Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif. Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras. Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.
Apakah penyakit rabies pada manusia dapat diobati?
- Rabies pada manusia dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama.
- Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus. Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.
- Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi rabies, karena bila tidak dapat mematikan (letal).
- Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan. Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:
- Dokter hewan.
- Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.
- Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan
- Para penjelajah gua kelelawar.
- Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun. Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.

