Tindakan

Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011

Dari Infokawan

Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian No. 853 Tahun 2011

BAB I. PENDAHULUAN

Latar Belakang

Protein hewani sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan, kesehatan, dan kecerdasan manusia. Ternak sebagai sumber pangan (daging, telur, dan susu) bagi manusia memberikan kontribusi yang besar terhadap pemenuhan kebutuhan protein hewani. Kebutuhan akan protein hewani ini terus meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, peningkatan pendidikan dan peningkatan pemahaman masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi daging, telur dan susu. Dalam rangka memenuhi kebutuhan daging bagi masyarakat Indonesia yang terus meningkat diperkirakan belum dapat dipenuhi oleh produksi dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan daging tersebut maka dilakukan melalui kegiatan pemasukan dan pengeluaran sapi dari dan ke luar wilayah negara Republik Indonesia, disamping upaya peningkatan produktifitas dalam negeri. Untuk memenuhi kebutuhan daging tersebut Kementerian Pertanian mencanangkan Program Swasembada Daging Sapi Tahun 2014 (PSDS-2014) untuk mewujudkan ketahanan pangan hewani asal ternak berbasis sumberdaya domestik khususnya ternak potong. Untuk menunjang Program Swasembada Daging tersebut, maka Badan Karantina Pertanian melalui Unit Pelaksana Teknisnya di seluruh Indonesia berperan aktif dalam program tersebut dengan melaksanakan tindakan karantina sesuai prosedur dan peraturan yang ada, untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama penyakit hewan karantina (HPHK) dan mempertahankan wilayah Republik Indonesia dari status bebas HPHK. Dalam rangka pelaksanaan tindakan karantina untuk pemasukan dan pengeluaran sapi dari dan ke luar wilayah negara Republik Indonesia harus dilakukan penanganan dan pemeriksaan yang ketat terhadap sapi tersebut. Hal ini untuk menjamin tersedianya sapi yang memenuhi syarat kesehatan, syarat keamanan hayati dan menjamin terselenggaranya usaha budidaya peternakan. Berkenaan dengan hal tersebut, diperlukan pedoman dalam penanganan dan pemeriksaan sapi dalam rangka pelaksanaan tindakan karantina sebagai acuan bagi petugas di lapangan maupun pengguna jasa karantina/instansi terkait dalam rangka pelaksanaan tindakan karantina yang profesional berdasarkan kemajuan ilmu pengetahuan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan sapi di dalam negeri maka dilakukan kegiatan pemasukan dan pengeluaran sapi dari dan ke luar wilayah negara Republik Indonesia. Pemasukan sapi dapat dilakukan oleh perorangan, badan hukum atau instansi pemerintah. Untuk mencegah kemungkinan timbul dan menyebarnya HPHK dan/ atau penyakit hewan eksotik yang dapat ditularkan melalui sapi tersebut serta untuk perlindungan sumberdaya genetik ternak, dan menjaga kelangsungan pengembangan populasi sapi dalam negeri maka dalam pemasukan dan pengeluaran sapi harus memenuhi persyaratan pemasukan dan pengeluaran yang telah ditetapkan sesuai peraturan perundangan yang berlaku. Untuk persyaratan pemasukan dan pengeluaran sapi mengacu pada peraturan perundangan yang ada, tentang Syarat dan Tata Cara Pemasukan dan Pengeluaran Benih, Bibit Ternak dan Ternak Potong.

Maksud dan Tujuan

  1. Maksud. Pedoman ini dimaksudkan sebagai acuan dalam:
    1. Pelaksanaan tindakan karantina terhadap sapi dalam rangka untuk mencegah masuk dan tersebarnya HPHK yang ditularkan oleh sapi.
    2. Persamaan presepsi dalam melaksanakan tindakan karantina terhadap sapi.
  2. Tujuan. Tujuan penyusunan pedoman ini adalah:
    1. Mengefektifkan pelaksanaan tindakan karantina terhadap sapi dalam mencegah masuk dan tersebarnya HPHK melalui sapi.
    2. Mengefektifkan pengawasan dan pemeriksaan sapi yang dilalulintaskan
    3. Melindungi konsumen dari benih, bibit ternak dan ternak potong yang tidak memenuhi persyaratan teknis yang ditetapkan.
  3. Ruang Lingkup. Ruang lingkup yang diatur dalam pedoman ini meliputi :
    1. Penanganan dan pemeriksaan sapi
    2. Pemeriksaan dan Pengujian Laboratorium
    3. HPHK yang dapat disebarkan melalui Sapi
    4. Jenis sapi dan Restrain/Handling sapi.
    5. Persyaratan pemasukan dan pengeluaran sapi
  4. Batasan (Pengertian). Dalam Pedoman ini yang dimaksud dengan:
    1. Area adalah daerah dalam suatu pulau, pulau, atau kelompok pulau di dalam negara Republik Indonesia yang dikaitkan dengan pencegahan penyebaran hama dan penyakit hewan karantina.
    2. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Pertanian adalah UPT di lingkungan Badan Karantina Pertanian, yang berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Badan Karantina Pertanian.
    3. Pengambilan sampel atau spesimen adalah tindakan perlakuan pada media pembawa dengan cara mengambil sejumlah sampel dan atau spesimen untuk kepentingan pengujian, identifikasi dan peneguhan diagnosis hama dan penyakit hewan karantina sesuai ketentuan dan tata cara pengambilan sampel dan atau spesimen yang benar.
    4. Petugas teknis karantina hewan adalah petugas Medik Veteriner dan Paramedik Veteriner yang diberi tugas melakukan tindakan karantina.
    5. Spesimen adalah contoh bahan pemeriksaan penyakit yang berasal dari hewan, bahan asal hewan dan hasil bahan asal hewan yang dicurigai.
    6. Laboratorium veteriner adalah laboratorium kesehatan hewan, laboratorium kesehatan veteriner, laboratorium karantina hewan, dan laboratorium lainnya yang ditunjuk untuk melakukan tugas pengujian, penyidikan dan upaya penanggulangan terhadap media pembawa hama dan penyakit hewan karantina dengan menggunakan metode uji yang standar
    7. Pemasukan sapi adalah serangkaian kegiatan untuk memasukan sapi dari luar negeri ke dalam Wilayah Negara Republik Indonesia baik untuk pemenuhan kebutuhan benih, bibit ternak dan ternak potong dalam negeri.
    8. Pengeluaran sapi adalah serangkaian kegiatan untuk mengeluarkan sapi dari wilayah Negara Republik Indonesia ke luar negeri.
    9. Sapi adalah semua hasil pemuliaan sapi yang memenuhi persyaratan tertentu untuk dikembang biakan.
    10. Negara asal pemasukan yang selanjutnya disebut negara asal adalah suatu negara yang mengeluarkan benih, bibit ternak dan ternak potong ke suatu tempat pemasukan di dalam wilayah Negara Republik Indonesia.
    11. Negara tujuan adalah suatu negara yang menerima benih, bibit ternak dan ternak potong dari wilayah negara Republik Indonesia.
    12. Tindakan Karantina Hewan yang selanjutnya disebut Tindakan Karantina adalah kegiatan yang dilakukan untuk mencegah hama penyakit hewan karantina masuk ke, tersebar di, dan atau keluar dari wilayah negara Republik Indonesia.
    13. Surat Persetujuan Pemasukan yang selanjutnya disingkat SPP adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya, kepada perorangan atau badan hukum atau instansi pemerintah untuk dapat melakukan pemasukan benih, bibit ternak atau ternak potong dari luar negeri ke dalam wilayah negara Republik Indonesia.
    14. Surat Persetujuan Pengeluaran yang selanjutnya disingkat SPP-l adalah keterangan tertulis yang diberikan oleh Menteri atau Pejabat yang ditunjuknya, kepada perorangan atau badan hukum atau instansi pemerintah untuk dapat melakukan pengeluaran benih, bibit ternak atau ternak potong ke luar wilayah negara Republik Indonesia.
    15. Persyaratan Kesehatan Hewan (Health Requirements) adalah persyaratan dibidang kesehatan hewan yang ditetapkan negara tujuan yang memuat status kesehatan hewan di negara asal, status kesehatan hewan di peternakan asal, dan perlakuan kesehatan hewan serta tindakan karantina yang harus dipenuhi oleh negara asal.
    16. Dokumen Persyaratan Karantina Hewan adalah sertifikat kesehatan dari negara/area asal (health certificate), surat keterangan asal (certificate of origin), Pasport hewan dan surat keterangan mutasi/transit;Surat Persetujuan Pemasukan/ Surat Rekomendasi Pemasukan
    17. Dokumen Kesehatan Hewan adalah surat keterangan yang menyatakan pemenuhan persyaratan kesehatan hewan sebagaimana ditentukan dalam Health Requirements yang ditetapkan oleh negara tujuan dan dikeluarkan secara sah oleh pejabat kesehatan hewan yang berwenang di negara asal atau surat keterangan asal yang menyatakan pemenuhan persyaratan kesehatan hewan yang dikeluarkan oleh dokter hewan yang berwenang di Kabupaten/Kota setempat.
    18. Surat Rekomendasi Pemasukan adalah surat rekomendasi pemasukan dari Dinas Peternakan Propinsi/Kabupaten/Kota atau Dinas yang membidangi Peternakan atau Kesehatan Hewan/ Kesehatan Masyarakat Veteriner di daerah tujuan
    19. Silsilah (pedigree) adalah catatan mengenai asal-usul keturunan ternak yang meliputi nama, nomor dan performa dari ternak dan tetua penurunnya.
    20. Bibit Dasar/foundation stock (FS) adalah bibit hasil dari suatu proses pemuliaan dengan spesifikasi bibit yang memiliki silsilah dan telah melalui uji performans dan atau uji zuriat.
    21. Bibit Induk/breeding stock (BS) adalah bibit dengan spesifikasi tertentu yang mempunyai silsilah untuk menghasilkan bibit sebar.
    22. Bibit Sebar/Commercial stock (CS) adalah bibit dengan spesifikasi tertentu untuk digunakan dalam proses produksi.
    23. Penyakit Hewan Eksotik adalah penyakit yang belum pernah terjadi atau muncul di suatu negara atau wilayah baik secara klinis, epidemiologis maupun laboratoris. (catatan termasuk HPHK).
    24. Dinas adalah instansi pemerintah daerah yang menangani fungsi Peternakan dan/atau Kesehatan Hewan.

BAB II. DOKUMEN PERSYARATAN KARANTINA TERHADAP LALULINTAS SAPI

  1. Impor. Dokumen persyaratan untuk lalulintas sapi impor adalah sebagai berikut:
    1. Sertifikat Kesehatan Hewan (Certicate of animal health) yang diterbitkan oleh pejabat berwenang di negara asal dan negara transit;
    2. Surat Persetujuan Pemasukan dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian;
    3. Surat Keterangan Transit apabila alat angkut melakukan transit
    4. Surat Keterangan Asal (Certicate of health)
    5. Untuk sapi bibit dilengkapi dengan Sertifikat asal usul/silsilah (pedigree) yang dikeluarkan oleh Assosiasi Breeder sejenis atau badan-badan pemerintah/semi pemerintah/swasta yang berwenang
  2. Antar Area. Dokumen persyaratan untuk lalulintas sapi antar area adalah sebagai berikut:
    1. Sertifikat Kesehatan Hewan (Certicate of animal health) yang diterbitkan oleh pejabat berwenang (karantina pertanian)
    2. Sertifikat Keterangan Kesehatan Hewan yang diterbitkan oleh pejabat berwenang dari daerah asal.
    3. Surat Rekomendasi dari pejabat yang berwenang dari daerah tujuan
  3. Ekspor. Dokumen persyaratan untuk lalulintas sapi ekspor adalah sebagai berikut:
    1. Surat Persetujuan Pengeluaran dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian;
    2. Surat Keterangan Kesehatan Hewan dari pejabat yang berwenang dari daerah asal;
    3. Surat Rekomendasi dari pejabat yang berwenang dari daerah asal;
    4. Surat Keterangan Asal (Certicate of origin)

BAB III. TINDAKAN KARANTINA HEWAN

TINDAKAN KARANTINA TERHADAP LALULINTAS SAPI IMPOR

Tindakan karantina bertujuan untuk mencegah masuk, keluar dan tersebarnya HPHK, untuk menjamin terhindarnya pencemaran lingkungan oleh limbah dan menghindari kemungkinan penyebaran hama penyakit hewan karantina. Tindakan yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut:

  1. Pemeriksaan
    1. Pemeriksaan Dokumen Persyaratan Karantina. Diperlukan untuk mengetahui kelengkapan, kebenaran isi, dan keabsahan dokumen
    2. Pemeriksaan Mutu/Kualitas Sapi Bibit. Untuk memperoleh sapi yang sehat, memenuhi standar keamanan hayati, kesehatan hewan maka dilakukan pemeriksaan fisik dan pembuktian (control inspection and approval – CIA) oleh petugas karantina hewan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut:
      1. Pemeriksaan jenis dan kelamin sapi
      2. Pemeriksaan bangsa sapi
      3. Pemeriksaan warna sapi
    3. Pemeriksaan klinis hewan, meliputi pemeriksaan:
      1. Mukosa/selaput lendir
      2. Parasit kulit
      3. Permukaan kulit
      4. Luka
      5. Faeces
      6. Nafsu makan/minum
      7. Pergerakan rumen
      8. Alat pergerakan
      9. Alat pernafasan
      10. Alat kardiavasculer
    4. Waktu:
    5. Pemeriksaan dilakukan pada siang hari, kecuali atas pertimbangan dokter hewan karantina.
    6. Pemeriksaan dilakukan sejak hewan diserahkan sampai dengan tindakan karantina dinyatakan selesai/berakhir.
  2. Pengasingan dan Pengamatan
    1. Dilakukan pengasingan di Instalasi Karantina Hewan yang telah ditetapkan selama minimal 14 hari.
    2. Pengamatan kondisi hewan dilakukan setiap hari selama masa karantina dengan mengamati gejala klinis yang timbul selama masa pengasingan
  3. Perlakuan
    1. Memisahkan/mengisolasi hewan yang sakit dan dilakukan pengobatan
    2. Dilakukan pengobatan terhadap hewan yang sakit selama masa karantina. sepanjang dinilai tidak mengganggu proses pengamatan dan pemeriksaan selanjutnya.
  4. Jenis Sampel dan Pemeriksaan Laboratorium
    1. Spesimen/sampel untuk pemeriksaan/pengujian laboratorium pada sapi betina adalah sebagai berikut:
      1. Darah, untuk pengujian:
        1. Anthrax (dari pembuluh darah perifer), pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        2. Theileriosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        3. Babesiosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        4. Anaplasmosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah
        5. Hemmorhagic Septichemia (dari pembuluh darah perifer), pengujian dengan metode ulas darah
      2. Serum, untuk pengujian:
        1. Brucellosis, pengujian dilakukan dengan metode Rose Bengal Test (RBT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan metode Complement Fixation Test (CFT) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
        2. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), pengujian dengan metode ELISA, Serum Netralisasi Test (SNT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR
        3. Enzootic Bovine Leucosis (EBL), pengujian dengan metode ELISA, AGID. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR.
        4. Bovine Viral Diarrhea(BVD), pengujian dengan metode ELISA, Viral Netralisasi Test (VNT).
        5. Paratuberculosis, pengujian dengan metode ELISA atau CFT. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR dan kultur dari feses.
        6. Q Fever, pengujian dengan metode indirect immunofluorescence (IFA), ELISA dan CFT
        7. Trichomonosis, pengujian dengan metode ELISA, PCR.
      3. Feses, untuk pengujian:
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian kultur. Dilakukan jika hasil ELISA dan PCR positif.
      4. Fetus/abortusan, untuk pengujian:
        1. Brucellosis (cairan uterus/plasenta/isi lambung fetus/paru-paru fetus/cotyledon/ limfoglandula), pengujian dengan metode kultur)
      5. Swab, untuk pengujian:
        1. Trichomonosis (swab cervix), dengan metode mucous agglutination test.
      6. Susu
        1. Brucellosis, dengan metode pengujian Milk Ring Test
      7. Kulit
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian tuberculinasi (intradermal test)/delayed type hipersensitivity (DTH).
        2. Trichomonosis, dengan metode intradermal tricin test
      8. Cairan udem
        1. Hemmorhagic Setichemia, dengan metode pengujian preparat ulas
    2. Spesimen/sampel untuk pemeriksaan/pengujian laboratorium pada sapi jantan:
      1. Serum, untuk pengujian:
        1. Brucellosis, pengujian dilakukan dengan metode Rose Bengal Test (RBT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan metode Complement Fixation Test (CFT) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
        2. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), pengujian dengan metode ELISA, Serum Netralisasi Test (SNT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR
        3. Enzootic Bovine Leucosis (EBL), pengujian dengan metode ELISA, AGID. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR.
        4. Bovine Viral Diarrhea(BVD), pengujian dengan metode ELISA, Viral Netralisasi Test (VNT).
        5. Paratuberculosis, pengujian dengan metode ELISA atau CFT. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR dan kultur dari feses.
        6. Trichomonosis, pengujian dengan metode ELISA, PCR.
      2. Feses, untuk pengujian:
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian kultur. Dilakukan jika hasil ELISA dan PCR positif.
      3. Kulit
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian tuberculinasi (intradermal test)/delayed type hipersensitivity (DTH).
        2. Trichomonosis, dengan metode intradermal tricin test
    3. Prosedur Pemeriksaan Brucellosis
      1. Pengambilan sampel dan pengujian Brucellosis dilakukan baik terhadap sapi bibit maupun sapi potong.
      2. Pengambilan sampel dan pengujian terhadap sapi bibit adalah 100%.
      3. Pengambilan sampel dan pengujian dilakukan sebagai berikut:
        1. Uji brucellosis dilakukan dengan metode RBT sebanyak 2 (dua) kali;
        2. Sapi hanya dapat dikeluarkan dari negara asal/sumber ternak minimal 30 (tiga puluh) hari setelah uji RBT pertama dengan hasil negatif;
        3. Uji yang dilaksanakan di negara asal dianggap pengujian pertama, uji kedua dilakukan di karantina tempat pemasukan;
        4. Selang waktu antara uji pertama dan uji kedua sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan paling lambat 60 (enam puluh) hari;
        5. Apabila daerah pelepasan adalah daerah bebas brucellosis, pengujian kedua dilakukan di IKH dalam selang waktu 30 hari setelah pengujian pertama.
          1. Jika hasil negatif maka sapi dinyatakan bebas dari brucellosis.
          2. Jika hasil positif maka dilakukan pemotongan bersyarat (pemusnahan).
        6. Apabila daerah pelepasan adalah daerah endemis, maka pengujian kedua dilakukan berkoordinasi dengan Dinas yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat, setelah pelepasan dari karantina dalam selang waktu 30 hari dari pengujian di IKH.
  5. Penahanan:
    1. Penahanan dilakukan bila:
      1. Dokumen persyaratan tidak dapat dilengkapi.
      2. Hasil pengujian laboratorium didapatkan hasil positif terhadap penyakit brucellosis, paratuberculosis, anthrax, didapatkan hasil positif untuk dilakukan pemotongan bersyarat (pemusnahan).
  6. Penolakan
    1. Penolakan dilakukan apabila ternyata :
      1. setelah dilakukan pemeriksaan di atas alat angkut, tertular hama penyakit hewan karantina;
      2. persyaratan karantina tidak seluruhnya dipenuhi;
      3. setelah dilakukan penahanan dan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi; atau
      4. setelah diberikan perlakuan di atas alat angkut, tidak dapat disembuhkan dan atau disucihamakan dari hama penyakit hewan karantina.
  7. Pemusnahan
    1. Pemusnahan dilakukan bila:
      1. setelah sapi tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan, tertular hama penyakit hewan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Menteri;
      2. Sapi yang ditolak tidak segera dibawa ke luar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan;
      3. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan, tertular hama penyakit hewan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Menteri; atau
      4. setelah sapi tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakuan, tidak dapat disembuhkan dan atau disucihamakan dari hama penyakit hewan karantina.
  8. Pembebasan
    1. Pembebasan dilakukan bila:
      1. setelah dilakukan pemeriksaan tidak tertular hama penyakit hewan karantina;
      2. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan tidak tertular hama penyakit hewan karantina;
      3. setelah dilakukan perlakuan dapat disembuhkan dari hama penyakit hewan karantina; atau
      4. setelah dilakukan penahanan seluruh persyaratan yang diwajibkan dapat dipenuhi

TINDAKAN KARANTINA TERHADAP LALULINTAS SAPI ANTAR AREA

Pada prinsipnya tindakan karantina terhadap lalulintas sapi antar area sama dengan tindakan karantina sapi impor.

  1. Pemeriksaan
    1. Pemeriksaan Dokumen Persyaratan Karantina. Diperlukan untuk mengetahui kelengkapan, kebenaran isi, dan keabsahan dokumen
    2. Pemeriksaan Mutu/Kualitas Sapi Bibit. Untuk memperoleh sapi yang sehat, memenuhi standar keamanan hayati, kesehatan hewan maka dilakukan pemeriksaan fisik dan pembuktian (control inspection and approval – CIA) oleh petugas karantina hewan. Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi hal-hal sebagai berikut:
      1. Pemeriksaan jenis dan kelamin sapi
      2. Pemeriksaan bangsa sapi
      3. Pemeriksaan warna sapi
    3. Pemeriksaan klinis hewan, meliputi pemeriksaan:
      1. Mukosa/selaput lendir
      2. Parasit kulit
      3. Permukaan kulit
      4. Luka
      5. Faeces
      6. Nafsu makan/minum
      7. Pergerakan rumen
      8. Alat pergerakan
      9. Alat pernafasan
      10. Alat kardiavasculer
    4. Waktu:
      1. Pemeriksaan dilakukan pada siang hari, kecuali atas pertimbangan dokter hewan karantina.
      2. Pemeriksaan dilakukan sejak hewan diserahkan sampai dengan tindakan karantina dinyatakan selesai/berakhir.
  2. Pengasingan dan Pengamatan
    1. Dilakukan pengasingan di Instalasi Karantina Hewan yang telah ditetapkan
    2. Pengamatan kondisi hewan dilakukan setiap hari selama masa karantina dengan mengamati gejala klinis yang timbul selama masa pengasingan
  3. Perlakuan
    1. Memisahkan/mengisolasi hewan yang sakit dan dilakukan pengobatan
    2. Dilakukan pengobatan terhadap hewan yang sakit selama masa karantina. sepanjang dinilai tidak mengganggu proses pengamatan dan pemeriksaan selanjutnya.
  4. Jenis Sampel dan Pemeriksaan Laboratorium
    1. Spesimen/sampel untuk pemeriksaan/pengujian laboratorium pada sapi betina adalah sebagai berikut:
      1. Darah, untuk pengujian:
        1. Anthrax (dari pembuluh darah perifer), pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        2. Theileriosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        3. Babesiosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah.
        4. Anaplasmosis, pengujian dilakukan dengan metode ulas darah
        5. Hemmorhagic Septichemia (dari pembuluh darah perifer), pengujian dengan metode ulas darah
      2. Serum, untuk pengujian:
        1. Brucellosis, pengujian dilakukan dengan metode Rose Bengal Test (RBT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan metode Complement Fixation Test (CFT) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
        2. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), pengujian dengan metode ELISA, Serum Netralisasi Test (SNT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR
        3. Enzootic Bovine Leucosis (EBL), pengujian dengan metode ELISA, AGID. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR.
        4. Bovine Viral Diarrhea(BVD), pengujian dengan metode ELISA, Viral Netralisasi Test (VNT).
        5. Paratuberculosis, pengujian dengan metode ELISA atau CFT. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR dan kultur dari feses.
        6. Q Fever, pengujian dengan metode indirect immunofluorescence (IFA), ELISA dan CFT
        7. Trichomonosis, pengujian dengan metode ELISA, PCR.
      3. Feses, untuk pengujian:
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian kultur. Dilakukan jika hasil ELISA dan PCR positif.
      4. Fetus/abortusan, untuk pengujian:
        1. Brucellosis (cairan uterus/plasenta/isi lambung fetus/paru-paru fetus/cotyledon/ limfoglandula), pengujian dengan metode kultur)
      5. Swab, untuk pengujian:
        1. Trichomonosis (swab cervix), dengan metode mucous agglutination test.
      6. Susu
        1. Brucellosis, dengan metode pengujian Milk Ring Test
      7. Kulit
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian tuberculinasi (intradermal test)/delayed type hipersensitivity (DTH).
        2. Trichomonosis, dengan metode intradermal tricin test
      8. Cairan udem
        1. Hemmorhagic Setichemia, dengan metode pengujian preparat ulas
    2. Spesimen/sampel untuk pemeriksaan/pengujian laboratorium pada sapi jantan:
      1. Serum, untuk pengujian:
        1. Brucellosis, pengujian dilakukan dengan metode Rose Bengal Test (RBT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan metode Complement Fixation Test (CFT) dan enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA)
        2. Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR), pengujian dengan metode ELISA, Serum Netralisasi Test (SNT). Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR
        3. Enzootic Bovine Leucosis (EBL), pengujian dengan metode ELISA, AGID. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR.
        4. ELISA, AGID. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR.
        5. Bovine Viral Diarrhea(BVD), pengujian dengan metode ELISA, Viral Netralisasi Test (VNT).
        6. Paratuberculosis, pengujian dengan metode ELISA atau CFT. Jika hasil positif dilanjutkan dengan PCR dan kultur dari feses.
        7. Trichomonosis, pengujian dengan metode ELISA, PCR.
      2. Feses, untuk pengujian:
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian kultur. Dilakukan jika hasil ELISA dan PCR positif.
      3. Kulit
        1. Paratuberculosis, dengan metode pengujian tuberculinasi (intradermal test)/delayed type hipersensitivity (DTH).
        2. Trichomonosis, dengan metode intradermal tricin test
    3. Prosedur Pemeriksaan Brucellosis
      1. Pengambilan sampel dan pengujian Brucellosis dilakukan baik terhadap sapi bibit maupun sapi potong.
      2. Untuk sapi jantan yang sudah dikastrasi dan akan langsung disembelih tidak dilakukan pengambilan sampel dan pengujian terhadap Brucellosis.
      3. Pengambilan sampel dan pengujian terhadap sapi bibit adalah 100%.
      4. Pengambilan sampel dan pengujian dilakukan sebagai berikut:
        1. Uji brucellosis dilakukan dengan metode RBT sebanyak 2 (dua) kali;
        2. Selang waktu antara uji pertama dan uji kedua sekurang-kurangnya 30 (tiga puluh) hari dan paling lambat 60 (enam puluh) hari;
        3. Sapi hanya dapat dikeluarkan dari daerah asal/sumber ternak minimal 30 (tiga puluh) hari setelah uji pertama dengan hasil negatif (dibuktikan dengan menyertakan hasil pengujian laboratorium). Uji pertama dilaksanakan di lapangan oleh Dinas Peternakan setempat (daerah asal);
        4. Di daerah pengeluaran:
          1. Apabila di daerah asal baru dilakukan 1 (satu) kali uji serologik, maka uji kedua dilakukan di karantina daerah asal;
          2. Apabila dari hasil uji RBT kedua ditemukan hasil yang positif, maka dilakukan konfirmasi dengan Uji CFT.
          3. Apabila hasil Uji CFT positif, terhadap sapi tersebut ditolak pengeluarannya dan apabila hasil uji CFT negatif, sapi dinyatakan bebas dari brucellosis dan dapat diberangkatkan.
        5. Di daerah pemasukan:
          1. Jika di daerah pengeluaran sudah dilakukan test serologis sebanyak 2 kali dan hasilnya negatif brucellosis (dengan menyertakan hasil pengujian laboratorium), maka di daerah pemasukan tidak perlu dilakukan pengujian terhadap brucellosis.
          2. Jika pada daerah pengeluaran baru dilakukan test serologis pertama, maka saat tindakan karantina dilakukan pengujian kedua dengan ketentuan sebagai berikut:
        6. Apabila daerah pelepasan adalah daerah bebas brucellosis, pengujian kedua dilakukan di IKH dalam selang waktu 30 hari setelah pengujian pertama.
        7. Jika hasil negatif maka sapi dinyatakan bebas dari brucellosis.
        8. Jika hasil positif maka dilakukan pemotongan bersyarat (pemusnahan).
        9. Apabila daerah pelepasan adalah daerah endemis, maka pengujian kedua dilakukan berkoordinasi dengan Dinas yang membidangi Peternakan dan Kesehatan Hewan setempat, setelah pelepasan dari karantina dalam selang waktu 30 hari dari pengujian di IKH.
  5. Penahanan:
    1. Penahanan dilakukan bila:
      1. Dokumen persyaratan tidak dapat dilengkapi.
      2. Hasil pengujian laboratorium didapatkan hasil positif terhadap penyakit brucellosis, paratuberculosis, anthrax, didapatkan hasil positif untuk dilakukan pemotongan bersyarat (pemusnahan).
  6. Penolakan
    1. Penolakan dilakukan apabila ternyata :
      1. setelah dilakukan pemeriksaan di atas alat angkut, tertular hama penyakit hewan karantina;
      2. persyaratan karantina tidak seluruhnya dipenuhi;
      3. setelah dilakukan penahanan dan keseluruhan persyaratan yang harus dilengkapi dalam batas waktu yang ditetapkan tidak dapat dipenuhi; atau
      4. setelah diberikan perlakuan di atas alat angkut, tidak dapat disembuhkan dan atau disucihamakan dari hama penyakit hewan karantina.
  7. Pemusnahan
    1. Pemusnahan dilakukan bila:
      1. setelah sapi tersebut diturunkan dari alat angkut dan dilakukan pemeriksaan, tertular hama penyakit hewan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Menteri;
      2. sapi yang ditolak tidak segera dibawa ke luar dari wilayah negara Republik Indonesia atau dari area tujuan oleh pemiliknya dalam batas waktu yang ditetapkan;
      3. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan, tertular hama penyakit hewan karantina tertentu yang ditetapkan oleh Menteri; atau
      4. setelah sapi tersebut diturunkan dari alat angkut dan diberi perlakuan, tidak dapat disembuhkan dan atau disucihamakan dari hama penyakit hewan karantina.
  8. Pembebasan
    1. Pembebasan dilakukan bila:
      1. setelah dilakukan pemeriksaan tidak tertular hama penyakit hewan karantina;
      2. setelah dilakukan pengamatan dalam pengasingan tidak tertular hama penyakit hewan karantina;
      3. setelah dilakukan perlakuan dapat disembuhkan dari hama penyakit hewan karantina; atau
      4. setelah dilakukan penahanan seluruh persyaratan yang diwajibkan dapat dipenuhi

BAB IV. PENGAMBILAN DAN PENGIRIMAN SAMPEL

Pengambilan Sampel

  1. Pengambilan Sampel Darah
    1. Darah tepi
      1. Sampel darah tepi diambil dari pembuluh darah perifer daerah telinga.
      2. Pada daerah telinga dioleskan alkohol 70% lalu dengan menggunakan jarum, pembuluh darah ditusuk dan tetesan darah diusapkan pada gelas objek, dibuat preparat ulas darah.
    2. Whole blood
      1. Sampel diambil dari vena leher (vena jugularis) atau vena ekor (vena coxae).
      2. Rambut di sekitar vena leher dicukur bila perlu.
      3. Pembuluh darah dibendung, setelah darah terbendung, daerah tersebut diusap dengan kapas yang dibasahi alkohol untuk desinfeksi.
      4. Jarum suntik steril ditusukkan, saat darah keluar ditampung beberapa tetes dan diusapkan pada gelas objek untuk membuat preparat ulas darah guna pemeriksaan parasit darah.
      5. Setelah pembuatan preparat ulas darah selesai, darah ditampung ke dalam tabung reaksi (± 5 ml) untuk membuat serum atau tabung antikoagulan untuk mendapatkan sampel whole blood.
    3. Serum
      1. Darah dalam tabung reaksi (± 5 ml) dibiarkan pada suhu kamar sampai terjadi pemisahan antara serum dan bekuan sel darah. Cairan serum yang sudah terpisahkan dari bekuan darah ini kemudian dipindahkan ke dalam tabung gelas/plastik (tabung venoject/ampul) yang steril.
  2. Pengambilan Sampel Feses
    1. Sampel feses yang terbaik adalah yang diambil langsung dari rektum.
    2. Sampel feses diambil minimal 10 gram langsung dari rektum dan dimasukkan ke botol tertutup /plastik steril. Swab rektum yang penuh dengan tinja harus dimasukkan ke dalam transpor media yang sesuai.
  3. Pengambilan Sampel Fetus yang keguguran dan selaput fetus
    1. Jika fetus hewan berukuran besar dan tidak mungkin dibawa ke laboratorium, maka diambil sampel secara aseptik dari berbagai organ dalam botol steril. Preparat ulas dari membran fetus harus dibuat.
  4. Pengambilan Sampel Air Susu.
    1. Cuci ambing sampai bersih dan keringkan dengan kertas (tissue).
    2. Apabila ambing diduga masih mengandung kontaminasi, bersihkan dengan alkohol 70%.
    3. Keluarkan air susu dengan memerah puting susu. Hasil perahan pertama dibuang. Perahan berikutnya sebanyak 10-20 ml ditampung dalam botol McCartney steril ukuran 30 ml atau botol plastik yang steril.
    4. Pada waktu memerah susu peganglah botol hampir mendatar (horisontal) dan hindarkan agar puting susu tidak menempel pada botol. Sampel harus dikirim ke laboratorium dalam keadaan dingin.
  5. Pengambilan Sampel Sampel Lendir Vagina.
    1. Lendir vagina dapat dikumpulkan dari ventral vornix vagina dan os externa cervix menggunakan pipet IB (inseminasi buatan) yang dituntun oleh tangan per rectal, kemudian disedot secara perlahan-lahan ke bagian ujungnya dan spesimen dikirim ke laboratorium dalam keadaan dingin menggunakan dry ice.
  6. Intradermal Test (Tuberkulinasi)
    1. Ukur ketebalan kulit daerah yang akan disuntik (kulit bagian leher atau caudal fold) dengan kutimeter.
    2. Bersihkan dengan alkohol dan suntik secara intradermal pada bagian tersebut dengan 0,1 ml PPD Johnin / PPD avium.
    3. Setelah 72 jam ukur kembali bagian kulit yang disuntik dan apabila ada peningkatan ketebalan 2 mm atau lebih (oedema sesaat) menunjukkan ada reaksi DTH.

Pengemasan/Pengepakan

Sampel/spesimen yang akan dikirimkan ke suatu laboratorium penguji melalui transportasi (darat/laut/udara) menggunakan jasa transportasi komersial harus dikemas dengan kualitas baik, cukup kuat terhadap goncangan dan tidak mengakibatkan kehilangan isinya. Pengepakan Sampel/spesimen dimaksudkan agar spesimen dikemas sedemikan rupa sehingga Sampel/spesimen terlidung dari pengaruh luar yang dapat merusak Sampel/spesimen, tidak merubah Sampel/spesimen, agen penyakit tidak mati, terlindung dan tidak mengkontaminasi lingkungan. Untuk itu maka pengepakan Sampel/spesimen dilakukan dengan hati-hati, mengikuti petunjuk standar untuk keamanan dan mencegah kerusakan Sampel/spesimen dan menjaga agar agen penyakit tetap hidup selama pengiriman. Sampel/spesimen diletakkan pada tempat yang kokoh (tidak mudah lepas), lalu disimpan dalam boks/kotak kedap dan dingin (berisi batu es atau es kering/dry ice) dengan ukuran yang cukup dan diperkirakan jumlah batu es/es kering dapat membuat Sampel/spesimen tetap dingin sampai di tempat tujuan. Bila dikhawatirkan terjadi goncangan yang dapat membuat pecahnya kemasan sampel/spesimen, maka dapat terlebih dahulu dibungkus dengan kapas/bahan lainnya (sebagai pelindung goncangan).

Pengiriman

Setelah dilakukan pengepakan, maka spesimen siap dikirim ke tempat tujuan. Dalam pengiriman spesimen perlu diperhatikan jalur pengiriman serta perlkiraan pengiriman. Jalur pengiriman spesimen lewat darat sangat terkait dengan lama waktu pengiriman. Dengan demikian perlu dipertimbangkan kekuatan bahan pendingin yang digunakan. Bahan pendingin untuk jarak dekat atau dalam waktu 24 jam dapat digunakan es batu atau pak es (ice pack), untuk jarak jauh (lebih dari 24 jam) digunakan es kering (dry ice). Jika pengiriman dilakukan melalui jasa transportasi maka pengepakan spesimen dilakukan sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh jasa transportasi, termasuk jasa transportasi udara. Spesimen yang dikirim harus bersifat komunikatif agar dapat dimengerti oleh petugas penguji di laboratorium, maka spesimen perlu diberikan kelengkapan/informasi yang relevan. Kelengkapan yang diperlukan untuk menyertai spesimen sampai ke laboratorim penguji adalah surat pengiriman atau formulir penyerahan spesimen, yang berisi:

  1. Nama dan alamat pengirim, termasuk no. telepon dari personal kontak
  2. Original/asal usul spesimen
  3. Riwayat hewan dan tanggal pengambilan
  4. Bahan pengawet/pembawa spesimen
  5. Identifikasi hewan dan jenis spesimen
  6. Uji laboratorium yang diminta

Pengujian laboratorium lanjutan untuk sapi juga mengacu pada pedoman lain yang telah ditetapkan, yaitu:

  1. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 68/Kpts/Hk.060/L/1/2010 Tentang Pedoman Pengujian Laboratorium Untuk Penyakit Viral;
  2. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 152/Kpts/Hk.030/L/3/2010 Tentang Pedoman Pengujian Laboratorium Untuk Penyakit Parasitik.
  3. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 385/Kpts /KP.430/L/5/2010Tentang Pedoman Pengujian Laboratorium Untuk Penyakit Bakterial.
  4. Keputusan Kepala Badan Karantina Pertanian Nomor : 2897.A/Pd.670.320/L/10/07 Tentang Pedoman Pengambilan Sampel dalam Rangka Monitoring Hama dan Penyakit Hewan Karantina Pada Hewan Dan Bahan Asal Hewan Serta Hasil Bahan Asal Hewan Di Daerah Pemasukan/Pengeluaran dan Daerah Penyebaran Eks Pemasukan